Bagaimana reaksi pasar terhadap penurunan peringkat kredit AS?
Pada tanggal 16 Mei 2025, lembaga pemeringkat Moody's menurunkan peringkat kredit AS dari level tertinggi, Aaa, menjadi Aa1.

Keputusan tersebut merupakan peringatan keras bagi pasar keuangan setelah tindakan serupa yang dilakukan oleh Fitch pada tahun 2023 dan Standard & Poor's pada tahun 2011.
Dengan demikian, untuk pertama kalinya dalam seratus tahun terakhir, ekonomi terbesar di dunia secara bersamaan kehilangan peringkat teratasnya dari ketiga lembaga pemeringkat terkemuka.
Alasan utama yang dikemukakan untuk keputusan ini adalah meningkatnya defisit anggaran, tingginya biaya pembayaran utang nasional, dan kurangnya langkah-langkah yang jelas dari pemerintah AS untuk menstabilkan kebijakan keuangan.
Reaksi pasar terhadap peristiwa ini terjadi seketika, tetapi moderat dibandingkan dengan pengalaman historis. Pada hari-hari pertama setelah pengumuman tersebut, imbal hasil obligasi Treasury AS 30 tahun naik tajam, melebihi 5% untuk pertama kalinya sejak tahun 2023. Namun, jumlah orang yang bersedia membelinya turun hingga hampir nol.
Dolar AS telah kehilangan sekitar 2,3% selama periode ini, menunjukkan kehati-hatian investor yang lebih memilih untuk mengurangi risiko.

Di tengah penurunan peringkat kredit, investor secara besar-besaran memindahkan dana dari dolar ke aset yang lebih aman.
Emas , yang secara tradisional dianggap sebagai aset aman, telah naik 7% sejak saat itu, mengkonfirmasi meningkatnya ekspektasi akan volatilitas lebih lanjut.
Pasar saham bereaksi beragam:
- S&P 500: turun dari 5.958,38 menjadi 5.802,82, atau mengalami penurunan sebesar 155,56 poin atau -2,61%.
- NASDAQ Composite: turun dari 19.211,10 menjadi 18.737,21, penurunan sebesar 473,89 poin atau -2,47%.
- Dow Jones Industrial Average: turun dari 42.654,74 menjadi 41.603,07, atau mengalami penurunan sebesar 1.051,67 poin atau -2,47%.
Saham perusahaan keuangan besar, khususnya bank dan perusahaan asuransi, sempat mengalami tekanan singkat tetapi dengan cepat stabil di tengah pernyataan yang tenang dari Federal Reserve.
Untuk lebih memahami prospek pasar saat ini, ada baiknya melihat kembali pengalaman historis penurunan peringkat serupa pada Agustus 2011, ketika Standard & Poor's menurunkan peringkat AS menjadi AA+ untuk pertama kalinya.

Reaksi pasar saat itu jauh lebih dramatis: indeks Dow Jones turun 5,5% dalam satu hari perdagangan, penurunan satu hari terbesar sejak krisis 2008.
Harga emas mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah selama periode ini, dan obligasi pemerintah AS, bertentangan dengan ekspektasi, juga menarik sejumlah besar modal, menyoroti daya tarik paradoks dari instrumen-instrumen ini bahkan di tengah penurunan peringkat kredit.
Situasi saat ini berbeda dari peristiwa tahun 2011 karena pasar sekarang memandang penurunan peringkat dengan lebih tenang, meskipun tidak kurang serius.
Kehati-hatian investor terutama didorong oleh kekhawatiran mendalam tentang masa depan fiskal AS.
Utang nasional telah mendekati 36 triliun dolar AS, dan defisit anggaran terus meningkat secara stabil, yang dapat memperburuk situasi lebih lanjut dalam dekade berikutnya.

Dalam waktu dekat, faktor-faktor berikut akan memengaruhi perilaku investor:
- Pendistribusian kembali modal ke aset yang lebih aman seperti emas, perak, dan obligasi pemerintah negara-negara dengan ekonomi stabil (Norwegia, Swiss, Singapura).
- Dolar AS melemah terhadap mata uang safe-haven, yaitu yen Jepang dan franc Swiss.
- Kemungkinan meningkatnya permintaan terhadap mata uang kripto seperti Bitcoin, yang dapat berfungsi sebagai alternatif instrumen keuangan tradisional dalam kondisi ketidakpastian yang meningkat.
Oleh karena itu, penurunan peringkat kredit AS merupakan sinyal penting yang menunjukkan perlunya pemantauan ketat terhadap indikator makroekonomi dan kebijakan bank sentral.
Terlepas dari ketenangan relatif dalam jangka pendek, konsekuensi jangka panjang dari langkah tersebut dapat berdampak lebih mendalam pada pasar dan secara signifikan mengubah strategi investasi di seluruh dunia.

