Pemulihan produksi di Libya dan harga minyak.
Libya selalu menjadi salah satu produsen minyak terbesar, dan cadangan minyaknya diperkirakan termasuk yang terbesar di benua Afrika.
Dalam beberapa tahun terakhir, Libya telah menjadi salah satu penghambat kenaikan harga minyak, karena negara tersebut belum menandatangani perjanjian untuk membatasi produksi.
Ini bisa dibilang sebagai bonus, mengingat situasi politik dan ekonomi yang tidak menguntungkan di dalam negeri.
Dan kini berita terbaru dari Libya kembali menimbulkan kekhawatiran di negara-negara OPEC: pada tanggal 6 September 2017, produksi minyak dilanjutkan di salah satu ladang terbesar, Sharara.
Meskipun pasar belum bereaksi terhadap berita tersebut, ada kemungkinan reaksi akan terjadi setelah volume produksi meningkat.
Banyak ahli mengatakan bahwa peningkatan produksi Libya adalah hambatan utama yang mencegah harga minyak naik hingga $60 per barel.
Penurunan akan berlanjut hingga muncul faktor baru di pasar yang akan memengaruhi harga minyak, yang bisa berupa kesepakatan lain antara negara-negara OPEC, dimulainya kembali konflik bersenjata di salah satu negara penghasil minyak, atau peristiwa lain yang terkait dengan pasar energi.

