Seberapa menguntungkan investasi jangka panjang dalam Bitcoin?
Bitcoin adalah mata uang digital yang diciptakan pada tahun 2009 oleh seseorang atau sekelompok orang yang tidak dikenal menggunakan nama samaran Satoshi Nakamoto.

Mata uang kripto ini tidak memiliki penerbit pusat, dan penerbitan serta transaksinya diatur oleh jaringan node yang menjalankan perangkat lunak Bitcoin.
Bitcoin dengan cepat menjadi populer di kalangan investor yang melihatnya sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan dari volatilitasnya yang tinggi.
Alasan popularitasnya adalah kenaikan harga aset digital ini yang belum pernah terjadi sebelumnya, dari $0,03 setelah peluncurannya hingga maksimum $68.000.
Namun, ada beberapa alasan mengapa investasi jangka panjang di Bitcoin mungkin tidak menguntungkan.
-
Bitcoin adalah aset spekulatif
Bitcoin adalah aset spekulatif, artinya nilainya ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Secara alami, peningkatan permintaan menyebabkan harga naik, sementara peningkatan penawaran menyebabkan harga turun.

Sejarah Bitcoin menunjukkan bahwa harganya dipengaruhi oleh florin . Sejak awal kemunculannya, harga mata uang elektronik ini telah meningkat hampir satu juta kali lipat, dari beberapa sen menjadi $68.789 pada November 2021.
Namun, selama periode ini, nilai mata uang digital tersebut telah anjlok tajam beberapa kali, termasuk hingga $3.000 pada tahun 2018.
Volatilitas yang tinggi ini menjadikan Bitcoin sebagai aset berisiko untuk investasi jangka panjang. Jika harganya turun, investor dapat kehilangan sebagian besar investasi mereka.
-
Bitcoin tidak memiliki nilai riil
Bitcoin tidak memiliki nilai intrinsik. Ini bukan komoditas yang dapat digunakan untuk memproduksi apa pun atau menyediakan layanan. Nilainya semata-mata didasarkan pada apa yang orang rela bayarkan untuknya.
Situasi ini mengingatkan kita pada "Demam Tulip" di Belanda abad keenam belas, ketika harga satu umbi tulip setara dengan 3 kilogram emas. Setelah demam tulip mereda, bahkan tulip langka pun hanya laku beberapa florin .

Jika permintaan terhadap Bitcoin menurun, harganya juga akan turun. Hal ini karena Bitcoin akan kekurangan faktor fundamental yang mendukung nilainya; mata uang kripto ini tidak didukung oleh nilai riil.
-
Bitcoin bukan alat pembayaran yang sah
Bitcoin bukanlah alat pembayaran yang sah di sebagian besar negara. Di beberapa negara, seperti Jepang, Bitcoin diakui sebagai alat pembayaran yang sah, tetapi penggunaannya dibatasi.
Ketidakmampuan Bitcoin untuk digunakan sebagai alat pembayaran yang sah membatasi potensinya sebagai aset investasi. Jika Bitcoin tidak dapat digunakan untuk pembelian sehari-hari, maka Bitcoin menjadi kurang menarik bagi investor.
-
Pasar kripto rentan terhadap serangan
Jaringan Bitcoin rentan terhadap serangan. Pada tahun 2017, serangan besar terhadap bursa Mt. Gox mengakibatkan pencurian Bitcoin senilai lebih dari $400 juta. Peretas berupaya mencuri koin dari dompet mata uang kripto setiap hari.
Serangan semacam itu dapat menyebabkan hilangnya dana investor. Selain itu, serangan tersebut dapat merusak kepercayaan terhadap Bitcoin dan menyebabkan penurunan nilainya.
-
Bitcoin tidak memiliki masa depan
Beberapa ahli percaya bahwa Bitcoin tidak memiliki masa depan. Mereka berpendapat bahwa Bitcoin adalah gelembung yang pada akhirnya akan meledak.
Bitcoin sudah mulai digantikan secara aktif oleh stablecoin , yang nilai tukarnya lebih stabil. Para pengecer secara bertahap meninggalkan Bitcoin sebagai alat pembayaran.
Ini berarti bahwa Bitcoin hanya mempertahankan komponen spekulatifnya, dan aset semacam itu lebih cocok untuk perdagangan jangka pendek daripada investasi jangka panjang.
Ada kemungkinan Bitcoin akan menembus angka $60.000 beberapa kali lagi, tetapi harganya juga bisa turun di bawah $20.000 dengan probabilitas yang sama.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai mata uang kripto lainnya, kunjungi: https://time-forex.com/kriptovaluty

