Mengapa orang menjual emas dan beralih ke obligasi selama krisis?
Sangat aneh melihat situasi di mana, di puncak krisis, harga emas mulai jatuh dengan cepat, dan investor berbondong-bondong beralih ke obligasi atau sekadar menyimpan uang mereka dalam bentuk tunai.

Sekilas, hal ini tampak tidak masuk akal. Lagipula, emas secara tradisional dianggap sebagai aset tempat berlindung yang aman, dan dalam jangka panjang, emas sebenarnya dapat mengungguli banyak instrumen konservatif.
Sebagai contoh, menurut TradingView, XAUUSD telah tumbuh sekitar +232% selama 10 tahun terakhir.
Sebagai perbandingan, obligasi korporasi AS menunjukkan kinerja yang jauh lebih moderat selama periode yang sama: dana iShares LQD, yang melacak obligasi korporasi dengan peringkat investasi, telah menghasilkan pengembalian sekitar 30% dalam total pengembalian 10 tahun, sementara dana obligasi berisiko tinggi HYG telah menghasilkan pengembalian sekitar 66%.
Setelah perbandingan seperti itu, pertanyaan yang muncul secara alami adalah: mengapa menjual emas, yang nilainya telah meningkat beberapa kali lipat selama 10 tahun terakhir, dan berinvestasi dalam obligasi, yang imbal hasilnya jauh lebih rendah?
Jawabannya adalah bahwa manajer dana besar seringkali memandang pasar dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan investor individu. Investor individu mampu berpikir dengan jangka waktu 5-10 tahun.
Seorang manajer dana sering bekerja berdasarkan laporan demi laporan: bulanan, triwulanan, tahunan. Mereka dievaluasi tidak hanya berdasarkan imbal hasil jangka panjang, tetapi juga berdasarkan penurunan nilai aset saat ini, volatilitas, risiko, dan reaksi klien.
Jika suatu dana mengelola, katakanlah, $100 miliar, dan $20 miliar di antaranya diinvestasikan dalam emas, maka penurunan 10% pada harga emas mewakili kerugian di atas kertas sekitar $2 miliar. Bagi investor ritel, ini adalah penurunan harga sementara.
Bagi dana tersebut, masalahnya terletak pada pelaporan, penjelasan kepada klien, pertanyaan dari komite risiko, dan kemungkinan arus keluar modal.

Itulah mengapa banyak reksa dana mencoba untuk segera menyingkirkan aset yang mulai anjlok. Mereka memindahkan uang mereka ke instrumen yang lebih aman: obligasi pemerintah, obligasi korporasi, reksa dana tunai, atau hanya uang tunai. Ini tidak selalu berarti manajer percaya bahwa obligasi lebih baik daripada emas dalam jangka waktu 10 tahun. Lebih sering, mereka hanya ingin mengurangi risiko dengan segera dan menunjukkan kepada klien bahwa reksa dana tersebut terkendali.
Ada faktor penting lainnya: likuiditas. Emas sangat mudah dijual, terutama melalui kontrak berjangka dan ETF. Ketika pasar jatuh dan uang tunai sangat dibutuhkan untuk membayar dividen, orang tidak hanya menjual aset yang buruk, tetapi juga aset yang dapat dengan cepat diubah menjadi uang tunai.
Goldman Sachs secara eksplisit menyatakan bahwa likuiditas emas yang tinggi menjadikannya sumber kas alami jika investor perlu memenuhi kebutuhan kas selama aksi jual di pasar.
ETF emas dan dana berjangka menciptakan tekanan harga yang sangat kuat. Dewan Emas Dunia mencatat bahwa ETF merupakan sumber permintaan investasi yang penting, dengan basis data mereka mencakup lebih dari 100 produk semacam itu di seluruh dunia. Ketika ETF menerima arus masuk, ini mendukung harga emas. Ketika penjualan dimulai, tekanan dengan cepat berpindah ke harga emas.
Pada tahun 2026, faktor ini menjadi semakin terlihat. MarketWatch melaporkan bahwa pada bulan Januari, arus masuk ke ETF emas mencapai rekor $19 miliar, dengan permintaan ETF menjadi salah satu pendorong utama volatilitas. Namun, permintaan ini memiliki sisi negatif: jika harga emas mulai turun tajam, investor yang sensitif terhadap kerugian dapat keluar dari posisi mereka dengan cepat, sehingga memperburuk penurunan tersebut.

Aksi jual besar-besaran memicu reaksi berantai. Pertama, dana dan algoritma menjual emas. Kemudian harga menembus level-level kunci, stop loss terpicu, dan tekanan meningkat di pasar berjangka. Selanjutnya, investor kecil ikut menjual, melihat berita penurunan harga dan mulai panik. Pada titik ini, media keuangan sering melaporkan bahwa obligasi dan uang tunai adalah cara terbaik untuk melewati krisis.
Bagi investor individu, kepanikan seperti itu seringkali merupakan kesalahan. Tidak seperti reksa dana, investor swasta tidak perlu melaporkan kepada klien setiap kuartal. Mereka tidak perlu terlihat baik di depan komite risiko. Jika mereka membeli emas sebagai lindung nilai jangka panjang, penurunan sementara itu sendiri bukanlah alasan untuk menjual aset tersebut.
Perbedaan utama antara investor swasta dan reksa dana adalah bahwa reksa dana seringkali melindungi laporan keuangannya, sementara investor swasta dapat melindungi modal dalam jangka panjang. Inilah sebabnya mengapa sebagian orang menjual emas saat terjadi penurunan harga, sementara yang lain menggunakan periode tersebut untuk secara bertahap mengakumulasi aset.
Pada akhirnya, menjual emas selama krisis tidak selalu berarti pasar telah kehilangan kepercayaan pada emas. Seringkali, itu hanyalah respons teknis dan manajerial dari para pemain utama: untuk mengurangi risiko, mempublikasikan laporan keuangan yang tenang, menghindari arus keluar modal, dan menunggu hingga periode volatilitas tinggi.
Namun sejarah menunjukkan bahwa investor jangka panjang tidak berkewajiban untuk meniru tindakan dana tersebut. Mereka memiliki tujuan yang berbeda: bukan untuk memenangkan laporan triwulanan, tetapi untuk melestarikan dan mengembangkan modal mereka selama bertahun-tahun.

