Bagaimana menentukan promosi yang diremehkan, dengan cepat dan sederhana?
Saat membeli saham perusahaan, Anda seharusnya tidak hanya fokus pada peringkat popularitasnya dan berapa banyak dividen yang dapat Anda terima di masa depan.

Indikator yang lebih penting adalah valuasi suatu sekuritas, seberapa tinggi harga pasar suatu saham dibandingkan dengan nilai sebenarnya.
Berdasarkan hal ini, saham tersebut mungkin undervalued – dengan prospek pertumbuhan yang tinggi, atau overvalued – dengan risiko penurunan harga yang tinggi.
Berinvestasi pada saham yang undervalued (bernilai rendah) menguntungkan karena memberikan peluang untuk membeli sekuritas dengan harga di bawah nilai sebenarnya dan dengan demikian menghasilkan keuntungan tambahan.
Namun, Anda tidak boleh sepenuhnya mempercayai rekomendasi analis—penilaian mereka mungkin terlambat atau tidak akurat.
Oleh karena itu, bermanfaat untuk mempelajari cara memeriksa secara mandiri saham mana yang benar-benar undervalued, terutama karena hal itu tidak sesulit yang terlihat.
Metode sederhana untuk mengevaluasi saham
Ada empat metrik kunci yang digunakan untuk mengidentifikasi saham yang undervalued. Mari kita periksa secara detail, menggunakan contoh.
| Indikator | Apa yang ditunjukkannya? | Cara menghitung | Hal yang perlu diperhatikan |
|---|---|---|---|
| Rasio P/E (Harga/Pendapatan) |
Berapa banyak yang dibayarkan investor untuk setiap $1 keuntungan perusahaan? | Harga Saham ÷ EPS | Semakin rendah rasio P/E, semakin baik sahamnya. Bandingkan dengan rata-rata industri |
| P/B (Harga/Nilai Buku) |
Membandingkan harga saham dengan nilai bukunya | Harga Saham ÷ (Ekuitas ÷ Jumlah Saham) | Rasio P/B di bawah 1,5 menunjukkan potensi valuasi yang rendah |
| EPS (Laba per saham) |
Berapa laba bersih per saham? | Laba bersih ÷ jumlah saham yang beredar | Semakin tinggi dan stabil pertumbuhan EPS, semakin baik |
| FCF (Arus Kas Bebas) |
Uang yang tersisa bagi perusahaan setelah dikurangi pengeluaran dan investasi | Arus Kas Operasional – Belanja Modal | Pertumbuhan yang stabil dan indikator positif adalah pertanda baik |
- Rasio Harga/Pendapatan (P/E) adalah rasio antara harga pasar dengan pendapatan tahun sebelumnya
P/E = Harga Saham / Laba Per Saham (EPS). Semakin rendah rasio ini, semakin baik untuk dibeli.
Contoh: Alphabet (Google):
Harga saham: $157,04; EPS: $6,46
Perhitungan: 157,04 / 6,46 ≈ 24,3
Jika rasio P/E rata-rata dalam suatu industri lebih tinggi (misalnya, 30), saham tersebut mungkin undervalued (bernilai rendah).
- Harga/Nilai Buku (P/B)
P/B = Harga Saham / Nilai Buku per Saham. Jika rasionya kurang dari 1,5, saham tersebut berpotensi menarik.
Contoh: Perusahaan Berkshire Hathaway:
Harga saham: $537,72; Nilai buku per saham: $384,09
Perhitungan: 537,72 / 384,09 ≈ 1,4
Saham tersebut tampaknya undervalued (P/B < 1,5).
- Arus Kas Bebas (FCF)
Indikator ini menunjukkan seberapa banyak kas bebas yang tersisa bagi perusahaan setelah dikurangi pengeluaran dan investasi. Pertumbuhan yang stabil pada indikator ini menunjukkan stabilitas keuangan perusahaan.
Contoh: Apple memiliki FCF:
- Pada tahun 2024: 85 miliar USD
- Pada tahun 2025: 92 miliar USD
Pertumbuhan FCF menunjukkan kesehatan keuangan suatu perusahaan.
- Perbandingan dengan perusahaan serupa
Bandingkan kinerja keuangan suatu perusahaan dengan para pesaingnya. Jika harga saham jauh lebih rendah meskipun angka laba dan pertumbuhan serupa, saham tersebut mungkin undervalued (di bawah nilai sebenarnya).
Contoh: Delta Air Lines memiliki rasio P/E sekitar 7,9, sedangkan rata-rata industri sekitar 15. Ini berarti saham Delta berpotensi menjadi investasi yang menarik.
Anda dapat menemukan data yang dibutuhkan untuk perhitungan baik di situs web perusahaan maupun di sumber daya seperti:
- Yahoo Finance (finance.yahoo.com)
- Google Finance (google.com/finance)
Mari kita coba menganalisis 10 saham paling likuid di pasar saham:
| Perusahaan | Jantung | Harga Promosi (USD) | P/E | P/B | Nilai |
|---|---|---|---|---|---|
| Apple Inc. | AAPL | 223,89 | 28,5 | 34,9 | Dinilai terlalu tinggi |
| Microsoft Corp. | MSFT | 382,14 | 35,2 | 15,1 | Dinilai terlalu tinggi |
| Amazon.com Inc. | AMZN | 196,01 | 58,7 | 8,9 | Dinilai terlalu tinggi |
| Alphabet Inc. | 157,04 | 24,3 | 5,4 | Harga normal | |
| Berkshire Hathaway | BRK.B | 537,72 | 8,5 | 1,4 | Diremehkan |
| Johnson & Johnson | JNJ | 155,36 | 17,8 | 5,7 | Harga normal |
| Tesla Inc. | TSLA | 282,76 | 72,3 | 14,2 | Dinilai terlalu tinggi |
| JPMorgan Chase & Co. | JPM | 162,45 | 10,3 | 1,2 | Diremehkan |
| Visa Inc. | V | 346,33 | 32,6 | 14,8 | Dinilai terlalu tinggi |
| Walmart Inc. | WMT | 89,76 | 23,4 | 4,9 | Harga normal |
Seperti yang Anda lihat, tidak semua saham populer menarik untuk dibeli, terutama karena banyak di antaranya tidak membayar dividen. Ini berarti keuntungan hanya dapat diperoleh jika harga naik, yang tidak mungkin terjadi karena valuasi yang terlalu tinggi.
Saat menilai valuasi saham yang rendah, penting untuk menganalisis tidak hanya indikator keuangan, tetapi juga prospek industri tempat perusahaan tersebut beroperasi.

Faktor-faktor seperti tren teknologi, perubahan preferensi konsumen, dan inisiatif regulasi dapat berdampak signifikan terhadap profitabilitas di masa depan.
Selain itu, menilai keunggulan kompetitif dan kualitas manajemen suatu perusahaan akan membantu memahami potensi pertumbuhan dan keberlanjutannya di pasar.
Adapun preferensi pribadi saya, saya juga mencoba membeli saham yang sejauh mungkin dari puncak harganya. Ini berarti saham tersebut memiliki potensi untuk kembali ke nilai puncaknya.
Oleh karena itu, pendekatan komprehensif yang mencakup analisis rasio keuangan, prospek industri, dan faktor internal perusahaan akan memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi saham yang undervalued dengan lebih akurat dan membuat keputusan investasi yang tepat.

